LBB Cendikia – Mengenali Kreativitas, syarat tumbuh dan metode pengembangan pada anak

kreativitas anak

Pendahuluan

Pada hakikatnya, anak tumbuh dan berkembang dalam asuhan keluarga. Keluarga merupakan komunitas kecil yang muncul sebagai buah dari hasil pernikahan. Islam memulai pembinaan keluarga dan rumah tangga dengan nurani individu yang asasi yaitu, yaitu “kasih sayang”. Agar tujuan ini tercapai maka Islam mengajarkan kepada kaum muslimin, khususnya suami istri untuk mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya. Menurut psikologi perkembangan, masa kanak-kanak merupakan periode awal kehidupan manusia, yang dimulai sejak kelahirannya dan berakhir pada saat dia mencapai usia dewasa.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang amat menentukan arah kehidupan manusia, di mana dia mempunyai ciri-ciri dan potensi-potensi tertentu yang menjadi dasar bagi pertumbuhannya di masa-masa selanjutnya (Thaha, 2009: 81). Dalam membentuk anak menjadi pribadi-pribadi handal, orang tua mempunyai tugas yang amat berat dan memainkan peranan yang menentukan. Orang tua dituntut untuk memahami karakter anak pada masa tersebut, mengenali hak-haknya dan kemudian mengupayakan terciptanya suatu lingkungan pendidikan yang dapat memupuk seluruh aspek perkembangan yang mencakup pada mental, minat, kreativitas secara seimbang dan optimal.

Mengembangkan bakat dan minat anak bertujuan agar anak belajar atau di kemudian hari bisa bekerja di bidang yang diminatinya dan sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat yang dimilikinya. Sehingga kelak anak bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi kreatif, dan setiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk kreatif, hanya saja permasalahannya sejauh mana potensi tersebut dapat diasah pada diri anak oleh orang tuanya, sehingga anak dapat tumbuh dewasa dengan menghasilkan karya dan gagasan yang spektakuler.

Untuk mengasah dan mengembangkan kreativitas minat serta bakat maka dapat dimulai sejak anak usia dini. Tentunya sebagai orang tua yang ingin anaknya kreatif maka harus memahami bagaimana mengembangkan dan meningkatkan kreativitas minat serta bakat pada anak. Selain perkembangan anak secara fisik, kognisi dan psikomotoriknya, orang tua juga harus memperhatikan perkembangan dari segi afektif dan ruhaniyahnya. Aspek-aspek ruhiyyah harus tetap diajarkan orang tuanya agar anak menjadi pribadi-pribadi tangguh urusan dunia dan agamanya. Artikel ini, selain memberikan gambaran cara mengembangkan anak, minat, bakat dan kreativitasnya juga melihat bagaimana al-Qur’an memberikan bimbingan ruhaniyah pada diri anak sejak masih kanak-kanak, sebagaimana tergambar pada pendidikan Lukman kepada putranya.

Seputar Kreativitas Anak

Kata kreativitas bukanlah kata baru yang ada dalam pendengaran kita, bahkan kata ini sudah sering kita dengar dan kita pakai, namun demikian, sebenarnya tidak mudah untuk merumuskan pengertian kreativitas itu. Di bidang psikologi sendiri ada banyak rumusan kreativitas yang sudah dibuat. Di antara mereka ada yang mendefinisikan kreativitas dengan; aktivitas kognitif yang menghasilkan cara-cara baru dalam memecahkan masalah. Pakar lain mendefinisikan kreativitas adalah potensi seseorang untuk menghasilkan karya atau ide yang orisinal. Ada yang mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan seseorang menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda baik berupa hasil yang dapat dinilai maupun berupa ide yang menghasilkan karya cipta baru (Tim Pustaka Familia, 2006: 252).

Alimah dkk. (2013: 141) menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan berpikir beragam yang ditandai dengan Fluenci atau ideide yang mengalir lancar, fleksibel atau memikirkan berbagai macam pemecahan masalah, atau mencari hal baru yang belum pernah ada. Bila orang tua terbiasa melarang tanpa memberikan solusi berarti bukan orang tua yang kreatif. Ketika harus melarang maka akan orang tua berikan alasan yang logis pada anak-anak. Karena biasanya bila anak dilarang maka akan muncul rasa ingin tahu. Namun apabila orang tua tidak memuaskan rasa ingin tahu anak, maka ia akan mencari tahu sendiri dan bila tanpa pendampingan akan berbahaya

Kreativitas merupakan buah dari pola pikir yang kreatif, yaitu kemampuan untuk melihat hal yang baru sesuatu yang tampaknya lumrah. Seorang anak yang kreatif misalnya, ia mampu melihat pelepah pisang bukan hanya sebagai batang pisang tetapi juga sebagai bahan untuk main-mainan. Oleh karenanya anak itu bisa disebut kreatif karena dapat melihat hal yang biasa kemudian ia dapat berbuat yang di luar kebiasaan anak para umumnya (Tim Pustaka Familia, 2006: 270).

Pentingnya Kreativitas

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orang tua yang otoriter terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas (Ranggiasanka, 2011: 31).

Terdapat sebuah pertanyaan apakah orang tua harus mengajarkan kreativitas kepada anaknya? Jawabannya adalah, tidak ada sarana, pendidikan, atau kurikulum yang bisa mengajarkan anak menjadi kreatif. Kreativitas tidak bisa diajarkan seperti kita mengajarkan kemampuan menghitung atau membaca. Kreativitas bukanlah suatu materi ajar yang bisa diberikan kepada anak, yang setelah diberikan anak akan mampu melakukan sesuatu yang diajarkan. Ini disebabkan karena, dalam kreativitas terkandung unsur kebaruan dan keunikan sehingga kreativitas lebih mirip dengan cara pandang (Tim Pustaka Familia, 2006: 271).

Setiap anak punya daya kreativitas

Seperti halnya kecerdasan, semua anak pasti memiliki kreativitas. Hanya saja masing-masing anak memiliki tingkat kreativitas yang berbeda-beda. Kecerdasan dan kreativitas pada dasarnya dapat berjalan seiring. Akan tetapi, berbeda dengan kecerdasan, kreativitas anak tidak dapat berkembang apabila anak tumbuh dalam lingkungan otoriter, di mana segala sesuatu yang dilakukan anak harus sesuai dengan aturan tertentu. anak yang menghadapi situasi seperti ini dalam waktu yang lama, baik di rumah maupun di sekolah, tidak akan memiliki kebebasan untuk berkarya dan kreativitasnya tidak akan berkembang (Wulan, 2011: 46).

Ciri-ciri kreativitas

Untuk menjabarkan ciri dari kreativitas anak, Munandar (1992) menjelaskan ciri-ciri kreativitas yang dibaginya menjadi dua yaitu ciri yang berhubungan dengan kemampuan berfikir  dan merasa;

Ciri kemampuan berpikir

Ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif atau kognitif (aptitude) antara lain :

  1. Keterampilan berpikir lancar, yaitu mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah, pertanyaan, memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal serta selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
  2. Keterampilan berpikir luwes atau fleksibel, yaitu menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
  3. Keterampilan berpikir orisinal, yaitu mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, serta mampu membuat kombinasikombinasi yang lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
  4. Keterampilan memerinci atau mengelaborasi, yaitu mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk, dan menambahkan atau memerinci secara detail dari suatu obyek gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik.
  5. Keterampilan menilai, yaitu menentukan patokan penilaian sendiri dan penentuan apakah suatu pertanyaan benar, suatu rencana sehat, atau suatu tindakan bijaksana, mampu mengambil keputusan terhadap situasi yang terbuka, serta tidak hanya mencetuskan gagasan tetapi juga melaksanakannya

Ciri kemampuan merasa

Ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang atau afektif (non aptitude) antara lain adalah:

  1. Upaya Rasa ingin tahu, meliputi suatu dorongan untuk mengetahui lebih banyak, mengajukan banyak pertanyaan, selalu memperhatikan orang lain, obyek dan situasi serta peka dalam pengamatan dan ingin mengetahui atau meneliti.
  2. Bersifat imajinatif, meliputi kemampuan untuk memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi, dan menggunakan khayalan tetapi mengetahui perbedaan antara khayalan dan kenyataan.
  3. Merasa tertantang oleh kemajemukan, meliputi dorongan untuk mengatasi masalah-masalah yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit, serta lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit.
  4. Sikap berani mengambil resiko, meliputi keberanian memberikan jawaban meskipun belum tentu benar, tidak takut gagal atau mendapat kritik, serta tidak menjadi raguragu karena ketidakjelasan hal-hal yang tidak konvensional, atau yang kurang berstruktur.
  5. Sikap menghargai, meliputi tindakan dapat menghargai bimbingan dan pengarahan dalam hidup, serta menghargai kemampuan dan bakat-bakat sendiri yang sedang berkembang.

Pengaruh Pola Asuh dalam Kreativitas Anak

Di antara ciri-ciri anak kreatif adalah ia selalu ingin tahu, ia tidak puas dengan satu jawaban, ia bersikap eksploratif, dan ia suka mencoba hal-hal yang tidak biasa. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua terkait pertanyaan yang terkadang dilontarkan anak. Bila anak terus bertanya dan dirasakan cukup mengganggu maka orang tua dapat menyiasati dengan memberikan satu buku tulis yang diberi judul “Buku Rasa Ingin Tahuku”, jadi anak bisa menuliskan (atau menggambarkan) pertanyaannya di buku tersebut. Saat orang tua sedang tidak sibuk, ia dapat mencari jawaban pertanyaan tersebut bersama-sama si anak (Alimah dkk, 2013: 142).

Kreativitas anak akan berkembang jika orang tua tidak selalu bersikap otoritatif, yaitu:

  1. Mampu mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkannya.
  2. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya.
  3. Orang tua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan orang lain atau diri sendiri).
  4. Orang tua tidak boleh mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah.
  5. Anak tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu seyogyanya orang tua menanyakan mengapa ia berpendapat dan berbuat demikian (Ranggiasanka, 2011: 31).

Hurlock (dalam Tim Pustaka Familia, 2006: 255) menjelaskan ada beberapa faktor atau kondisi yang dapat meningkatkan kreativitas, di antaranya; pertama, waktu (anak perlu dibebaskan bermain tanpa pembatasan waktu yang ketat; kedua, kesempatan sendiri (agar dapat mengembangkan imajinasi anak perlu dibiarkan sendiri dan tidak ada tekanan sosial); ketiga, dorongan, sarana (pemilihan sarana yang baik akan mempengaruhi pengembangan kreativitas; keempat, lingkungan yang merangsang (ada dorongan dan suasana yang mendukung kebebasan ekspresi); keempat, sikap orang tua tidak permisif atau otoriter, pemberian pengetahuan yang banyak (Tim Pustaka Familia, 2006: 255)

Kreativitas mempengaruhi perkembangan pribadi anak serta penyesuaian mereka dengan lingkungan sosial. Perkembangan kreativitas yang terhambat akan mengganggu proses pembentukan kepribadian anak. Perkembangan kreativitas seseorang berlangsung bertahap dan melalui proses yang panjang. Pada proses tersebut ada beberapa mas yang disebutkan sebagai periode kritis perkembangan kreativitas (Wulan, 2011: 46).

Dalam mengembangkan kreativitas anak, orang tua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berpikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Orang tua tidak boleh banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Semua itu bertujuan untuk merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting untuk kreativitas anak yaitu: berpikir divergen (meluas), intuitif, abstrak, bebas dan simultan (Ranggiasanka, 2011: 32).

Pola asuh terhadap anak usia dini yang baik adalah demokratis, pola ini sangat baik untuk mengembangkan kreativitas anak. Pada pola ini anak diberikan otoritas dalam mengembangkan kreativitasnya; dengan mendengarkan omongan anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkan pendapatnya, menghargai pendapat anak, tidak memotong pembicaraan anak, serta orang tua tidak melecehkan pendapat anak. Orang tua mendorong anak agar tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal di lingkungannya (Ranggiasanka, 2011: 33).

Mainan Edukatif dan Kreativitas Anak

Pada umumnya ketika anak memasuki umur 5-7 tahun, anak sudah mulai meninggalkan permainan yang menggunakan barangbarang mainannya. Hal ini karena permainan dengan benda-benda mainan sifatnya sangat individu atau dilakukan sendiri, sedangkan mulai masuk TK anak lebih suka bermain bersama teman-temannya (Wulan, 2011:62).

Dalam berkreativitas adakalanya anak bermain dengan menggunakan mainan yang memiliki nilai edukasi yang tinggi. Mainan edukatif anak berperan besar dalam mengembangkan kreatifitas anak. Dengan mainan edukatif yang dibuat orang tua, perkenalan anak dengan bentuk, alam atau binatang, merupakan permainan yang efektif untuk memupuk kreativitas anak. Mainan-mainan itu apabila diberikan anak sejak dini dengan pengawasan orang tua, maka akan melekat di benak anak daripada hanya dituturkan melalui lisan atau cara verbal (Tim Pustaka Familia, 2006: 264).

Tipe permainan edukatif yang dilakukan anak mengalami perubahan, dari sekedar meniru menjadi menciptakan sesuatu yang baru. Misalnya pada permainan konstruktif atau membangun. Sebelum masuk sekolah, anak cenderung memuat benda-benda yang pernah dilihat sebelumnya. Misalnya, anak-anak merasa senang dan puas jika berhasil membuat kue dari lilin warna sesuai dengan kue yang pernah dilihat di rumah temannya.

Anak prasekolah memulai meninggalkan permainan yang terlalu menggunakan khayalan atau imajinasi seperti permainan pura-pura atau berbicara sendiri dengan boneka dan mainan lainnya. Meskipun demikian begitu, imajinasi anak tidak sepenuhnya hilang. Hanya saja penggunaan imajinasi mengalami pergeseran kepada kegiatan lain yang tidak memerlukan benda mainan. Dengan kreativitas anak misalnya, untuk mengganti permainan pura-pura bersama bonekabonekanya, anak mulai lebih suka menyalurkan daya khayal dan imajinasinya dengan melamun (Wulan, 2011:63).

Syarat Tumbuhnya Kreativitas Anak

Kreativitas anak akan tumbuh pada tempat yang tepat, yakni tempat yang memiliki dua syarat, yaitu: rasa aman dari gangguan dan tekanan, serta kemerdekaan psikologis.

Ini berarti, anak akan menjadi kreatif dan tetap kreatif ketika tumbuh dilingkungan yang memiliki dua syarat tersebut. Rasa aman merupakan syarat eksternal lahan kreativitas. Di lingkungan amanlah benihbenih kreativitas dapat tumbuh. Anak-anak yang tidak merasa aman karena dinakali teman, takut kotor, takut jatuh, takut dimarahi, takut dicela, takut dicemooh, akan mengalami hambatan proses kreativitas. Sebaliknya, anak-anak yang memperoleh rasa aman, akan memulai segala aktivitas dengan perasaan lapang dan menyenangkan.

“Inovasi-inovasi” akan lahir ketika anak merasakan ketiadaan ancaman. Oleh karena itu, sangat panting bagi guru menciptakan rasa aman di sekolah, termasuk rasa aman terhadap gangguan dan cemoohan teman. Kemerdekaan psikologis merupakan syarat internal kreativitas. Kemerdekaan psikologis merujuk pada suatu kebebasan untuk melakukan aktivitas berpikir dan bertindak tanpa perasaan tertekan oleh suatu target dan rasa terhambat.

Kemerdekaan psikologis melekat dalam diri individu seorang anak, dan membimbing mereka untuk bermain dengan elemen dan konsep-konsep. Anak yang memiliki rasa merdeka secara psikologis cenderung terbuka terhadap ide dan pengalaman baru. Secara sederhana Hurlock (1978) menginformasikan beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang untuk berlaku kreatif, seperti:

  • Waktu
  • Dorongan
  • Kesempatan menyendiri
  • Sarana
  • Lingkungan
  • Cara mendidik
  • Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.

Sedangkan Setiawan dkk. (1984) menuliskan bahwa kreativitas anak dapat dipupuk dengan cara: (1) Merangsang kelancaran, kelenturan dan keaslian dalam berpikir. (2) Memupuk sikap dan minat untuk menyibukkan diri secara kreatif. (3) Menyediakan sarana dan prasarana pengembangan ketrampilan dalam membuat karya yang kreatif.

Selain mengetahui factor-faktor yang merangsang kreativitas, juga perlu diketahui factor-faktor yang menghambat krativitas. Factor tersebut dapat dating dari luar maupun dari dalam diri individu sendiri. Menurut Campbell (1986) beberapa faktor yang diindikasikan menjadi penyebab rendahnya kreativitas seseorang seperti: (1) Takut gagal; (2) Terlalu sibuk dengan tata tertib dan tradisi (3) Gagal melihat kekuatan yang ada; (4) Terlalu pasti; (5) Enggan untuk mempengaruhi; (6) Enggan untuk bermain-main; (7) Terlalu mengharapkan hadiah

Tidak hanya itu, Leeper, Skipper dan Whitersponn (1079) mengungkap beberapa faktor yang cenderung dapat menghambat kreativitas adalah (1) Tekanan dari teman sebaya yang menuntut konformitas; (2) Tekanan terhadap pertanyaan dan eksplorasi, penekanan lebih dilakukan pada perilaku mendengar dan mengikuti petunjuk; (3) Penekanan pada perbedaan peran jenis kelamin; (4) Budaya beorientasi sukses yang membuat anak tidak berani mengambil resiko dengan pendekatan baru. Hal ini membuat anak-anak menjadi takut untuk bertindak

Hal di atas senada dengan yang ditulis oleh Santrock (2007) tentang Kondisi Yang Meningkatkan Kreativitas, yaitu: (1) Waktu (2) Kesempatan Menyendiri. (3) Dorongan. (4) Sarana. (5) Lingkungan yang merangsang. (6) Hubungan orang tua dan anak yang tidak posesif. (7) Cara mendidik anak (8) Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.

Sumber : PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN POTENSI ANAK USIA DINI, Ahmad Atabik Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus.