LBB Cendikia – Peran orangtua dalam mencukupi gizi anak dengan pemilihan Jajanan Anak Sekolah yang tepat

jajanan anak sekolah

Peran Orangtua

Apa perang orangtua dalam pemilihan jajanan anak sekolah?. Peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan pangan yang bergizi dan seimbang serta mengajarkan anak untuk memilih dan mengonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang. Pendekatan yang baik dengan anak, komunikasi dan penyampaian informasi mengenai pangan yang bergizi dapat membuat anak lebih berhati-hati dalam memilih pangan atau jajanan. Perhatian orang tua juga sangat diperlukan dalam menyediakan pangan yang disukai oleh anak.

Pangan yang diberikan saat dirumah hendaknya memperhatikan nilaigizi dengan menyesuaikan kondisi sosial ekonomi keluarga. Orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kesehatan atau status gizi anak hendaknya dapat mengawasi pola pangan atau jajanan yang dipilih oleh anaknya, sehingga dibutuhkan informasi mengenai pangan apa saja yang baik, jajanan yang baik serta dampak yang ditimbulkan apabila anak tidak mengonsumsi pangan yang bergizi dan seimbang. Selain itu dibutuhkan peran pemerintah dalam mensosialisasikan pengetahuan mengenai pangan yang bergizi dan seimbang atau asupan yang baik bagi anak usia sekolah kepada para orang tua terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.

Orang tua hendaknya memberikan dukungan dengan cara partisipasi melalui pertemuan orang tua siswa (komite sekolah) atau lainnya, berdiskusi dengan dokter/petugas kesehatan sekolah dalam sebagai upaya peningkatan dan pemenuhan gizi seimbang pada anak.

Empat Prinsip Gizi Seimbang

Prinsip gizi seimbang yakni konsumsi makanan sehari-hari harus mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah (porsi) yang sesuai dengan kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Konsumsi makanan dengan pola ini harus memperhatikan empat prinsip dasar, yaitu:

1. Makan yang beraneka ragam

Makan yang beraneka ragam sangat diperlukan karena tidak ada 1 (satu) jenis makanan pun yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Prinsipnya, setiap makanan yang dihidangkan dari makan pagi, siang dan malam serta makan selingan harus terdiri atas makanan pokok, lauk-pauk, sayur dan buah. Jumlah makanan yang dibutuhkan oleh tubuh berbeda-beda tergantung pada umur, jenis kelamin dan banyaknya aktivitas fisik yang dilakukan. Berikut beberapa contoh makanan yang beraneka ragam;

  1. Air putih sangat penting, sedikitnya 8 gelas sehari
  2. Nasi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, dan lain-lain sama baiknya sebagai sumber karbohidrat (sumber energi)
  3. Bayam, sawi, tomat, wortel, dan lain-lain sama pentingnya sebagai sumber vitamin dan mineral
  4. Pisang, papaya, nanas, semangka, apel, dan lain-lain sama pentingnya sebagai sumber vitamin dan mineral
  5. Daging, ikan, ayam, tempe, kacang-kacangan, dan lain-lain sama pentingnya sebagai sumber protein
  6. Susu merupakan sumber kalsium dan protein. Segelas susu dapat diganti dengan sebutir telur atau sepotong daging
  7. Gula, garam beryodium dan minyak semua penting tetapi hanya diperlukan sedikit. Contoh menu sehat sederhana, antara lain: Nasi dengan sayur bayam yang dimasak dengan kaldu ayam, seporsi tahu goreng dan 1 buah pisang. Nasi jagung dengan sayur daun singkong bersantan dengan teri, sepotong tempe goreng dan 1 potong papaya

2. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

Perlunya perilaku hidup bersih agar terhindar dari serangan kuman penyebab penyakit infeksi. Penyakit infeksi dapat mengganggu keadaan gizi seseorang. Pola makan gizi seimbang tidak akan berguna jika tidak diikuti dengan penerapan perilaku hidup bersih, seperti mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan sesudah buang air, menutup makanan dan minuman, mandi sedikitnya 2 kali sekali, menggosok gigi setidaknya saat bangun tidur dan sebelum tidur, potong dan bersihkan kuku secara teratur, mencuci buah dan sayur yang akan dimakan, minum air matang, dan buang sampah ditempat tertutup. Beberapa kegiatan anak sekolah dalam menerapkan PHBS di sekolah antara lain membawa bekal dari rumah; jajan di warung/kantin sekolah karena lebih terjamin kebersihannya; mencuci tangan dengan air bersih dan sabun; menggunakan jamban di sekolah serta menjaga kebersihan jamban; mengikuti kegiatan olah raga dan aktifitas fisik sehingga meningkatkan kebugaran dan kesehatan peserta didik; memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin; tidak merokok, memantau pertumbuhan anak sekolah melalui pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan; serta membuang sampah pada tempatnya. Dengan menerapkan PHBS di sekolah oleh anak sekolah, guru dan masyarakat lingkungan sekolah, maka akan membentuk mereka untuk memiliki kemampuan dan kemandirian dalam mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat.

3. Aktifitas fisik

Bentuk aktivitas fisik yang umum dapat dilakukan adalah bermain (misalnya petak umpet, gobak sodor) dan olahraga secara teratur. Olahraga yang dilakukan dalam waktu yang cukup dan teratur akan memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak dan otot sehingga meningkatkan kebugaran dan ketangkasan berpikir. Olahraga sebaiknya dilakukan minimal 3-5 hari per minggu dan setiap kali olahraga minimal 30 menit.

Aktivitas fisik yang teratur atau olahraga ringan sampai sedang yang rutin dan teratur serta berkelanjutan adalah salah satu hal paling penting yang dapat dilakukan dengan mudah untuk memperoleh berbagai manfaat bagi kesehatan. Salah satu penyebab utama dari penyakit tidak menular (PTM) adalah kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan. PTM yang masih menjadi hantu di Indonesia seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan juga stroke. Padahal penyakit tersebut sebenarnya bisa dikurangi resikonya dengan banyak melakukan aktivitas fisik dalam kehidupan harian Anda.

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga/energi dan pembakaran energi. Aktivitas fisik dikategorikan cukup apabila seseorang melakukan latihan fisik atau olah raga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu. Melakukan aktivitas fisik merupakan salah satu pilar dan pedoman dari Gizi Seimbang.

Manfaat lainnya adalah seperti peningkatan kebugaran kardiorespirasi, peningkatan kekuatan otot, penurunan gejala depresi, dan penurunan tekanan darah yang berkelanjutan; namun hal ini memerlukan beberapa minggu atau bulan dalam melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik juga dapat memperlambat atau menunda perkembangan penyakit kronis.

Selain itu, manfaatnya:

  • Peningkatan kesehatan tulang (usia 3 hingga 17 tahun)
  • Peningkatan status berat badan (usia 3 hingga 17 tahun)
  • Dan Peningkatan kebugaran kardiorespirasi dan otot (usia 6 hingga 17 tahun)
  • Peningkatan kesehatan kardiometabolik (usia 6 hingga 17 tahun)
  • Peningkatan kognisi (usia 6 hingga 13 tahun)
  • Mengurangi risiko depresi (usia 6 hingga 13 tahun)

4. Memantai berat badan

Perlunya memantau berat badan ideal adalah untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai berat badan ideal atau tidak berdasarkan umur, jenis kelamin dan tinggi badannya dan untuk mengetahui apakah terjadi penurunan atau kenaikan berat badan. Berat badan yang tidak ideal dapat mengakibatkan berat badan kurang/ kurang gizi dan berat badan berlebih/ kegemukan. Berat badan kurang/ kurang gizi disebabkan karena tidak mengikuti pola gizi seimbang, terutama makan kurang dari kebutuhan yang seharusnya. Kurang gizi dapat menimbulkan, antara lain: mudah sakit, pertumbuhan terhambat, kecerdasan terganggu, konsentrasi terganggu, mudah mengantuk, dan sering tidak masuk sekolah. Berat badan berlebih/ kegemukan disebabkan oleh karena tidak mengikuti pola gizi seimbang, antara lain: makan berlebihan, terlalu banyak makan dan minum yang manis, terlalu banyak makan makanan berlemak, tidak olahraga, dan kurang akitivitas fisik. Kegemukan dapat menimbulkan, antara lain: mudah sakit, mudah lelah dan mudah mengantuk. Dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit darah tinggi, jantung, diabetes dan lain-lain.

Jenis-jenis Jajanan Anak Sekolah

Jenis-jenis PJAS Makanan selingan dapat berfungsi sebagai asupan gizi anak sekolah, menjaga kadar gula darah agar anak sekolah tetap berkonsentrasi, untuk mempertahankan aktivitas fisik anak  sekolah. Makanan selingan dapat berupa bekal dari rumah atau berupa Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS).

Jenis pangan jajanan anak sekolah dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:

a. Jajanan berat atau makanan utama untuk anak

Kelompok makanan utama atau dikenal dengan istilah “jajanan berat”. Jajanan ini bersifat mengenyangkan. Contohnya: mie ayam, bakso, bubur ayam, nasi goreng, gado-gado, soto, lontong isi sayuran atau daging, dan lain-lain.

b. Jajanan camilan atau snack anak

Camilan merupakan makanan yang biasa dikonsumsi diluar makanan utama. Camilan dibedakan menjadi 2 jenis yaitu camilan basah dan camilan kering. Untuk camilan basah contohnya: gorengan, lemper, kue lapis, donat, dan jelly. Sedangkan camilan kering, contohnya: brondong jagung, keripik, biskuit, kue kering, dan permen.

c. Minuman anak

Minuman dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu minuman yang disajikan dalam gelas dan minuman yang disajikan dalam kemasan. Contoh minuman yang disajikan dalam gelas antara lain: air putih, es teh manis, es jeruk dan berbagai macam minuman campur (es cendol, es campur, es buah, es doger, jus buah, es krim). Sedangkan minuman yang disajikan dalam kemasan contohnya: minuman ringan dalam kemasan (minuman soda, teh, sari buah, susu, yoghurt).

d. Jajanan Buah

Buah yang biasa menjadi jajanan anak sekolah yaitu buah yang masih utuh atau buah yang sudah dikupas dan dipotong. Buah utuh contohnya seperti buah manggis, buah jeruk. Sedangkan buah potong contohnya: pepaya, nanas, melon, semangka, dan lain-lain

Tips Memilih Jajanan Anak Sekolah

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang sesuai adalah PJAS yang aman, bermutu, dan bergizi serta disukai oleh anak. Berikut beberapa tips memilih PJAS yang sesuai:

a. Kenali dan pilih pangan jajanan anak sekolah yang aman

Pangan yang aman adalah pangan yang bebas dari bahaya biologis, kimia dan benda lain. Pilih pangan yang bersih, yang telah dimasak, tidak bau tengik, tidak berbau asam. Sebaiknya membeli pangan di tempat yang bersih dan dari penjual yang sehat dan bersih. Pilih pangan yang dipajang, disimpan dan disajikan dengan baik.

b. Jaga kebersihan jajanan anak

Kita harus mencuci tangan sebelum makan karena mungkin tangan kita tercemar kuman atau bahan berbahaya. Mencuci tangan dan peralatan yang paling baik menggunakan sabun dan air yang mengalir.

c. Baca label dengan seksama

Pada label bagian yang diperhatikan adalah nama jenis produk, tanggal kedaluwarsa produk, komposisi dan informasi nilai gizi (bila ada). Bila pangan dalam kemasan dan berlabel, pilih yang memiliki nomor pendaftaran (P-IRT/MD/ML). Jika, pangan tidak berlabel (seperti lemper, lontong, donat, dll) maka pilih yang kemasannya dalam kondisi baik.

d. Ketahui kandungan gizinya

Untuk Pangan olahan dalam kemasan Baca label informasi nilai gizi untuk mengetahui nilai energi, lemak, protein dan karbohidrat. Untuk pangan siap saji Pada Buku Informasi Kandungan Gizi PJAS (Badan POM, 2013) dapat diketahui komposisi kandungan zat gizi untuk setiap jenis pangan siap saji. Yang utama diperhatikan adalah pemenuhan energi dari setiap pangan yang dikonsumsi.

e. Konsumsi air yang cukup

Dapat bersumber terutama dari air minum, dan sisanya dapat dipenuhi dari minuman olahan (sirup, jus, susu), makanan (kuah sayur, sop) dan buah. Konsumsi minuman olahraga (sport drink/minuman isotonik) hanya untuk anak sekolah yang berolahraga lebih dari 1 jam.

f. Perhatikan warna, rasa dan aroma pada jajanan anak

Hindari makanan dan minuman yang berwarna mencolok, rasa yang terlalu asin, manis, asam, dan atau aroma yang tengik.

g. Batasi minuman yang berwarna dan beraroma

Minuman berwarna dan beraroma contohnya minuman ringan, minuman berperisa.

h. Batasi konsumsi pangan cepat saji (fast food)

Konsumsi fast food yang berlebihan dan terlalu sering merupakan pencetus terjadinya kegemukan dan obesitas. Pangan cepat saji antara lain kentang goreng, burger, ayam goreng tepung, pizza. Biasanya makanan ini tinggi garam dan lemak serta rendah serat.

i. Batasi makanan ringan

Makanan ini umumnya rendah serat dan mengandung garam/natrium yang tinggi dan mempunyai nilai gizi yang rendah. Contoh makanan ringan seperti keripik kentang.

j. Perbanyak konsumsi makanan berserat

Makanan berserat bersumber dari sayur dan buah. Menu makanan tradisional yang tinggi serat seperti rujak, gado-gado, karedok, urap dan pecel.

k. Bagi anak gemuk/ obesitas batasi konsumsi pangan yang mengandung gula, garam, dan lemak

Sebaiknya asupan gula, garam dan lemak sehari tidak lebih dari 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak/minyak.

Tips Pencapaian Gizi Anak Sekolah

a. Biasakan sarapan

Biasakan anak sarapan di rumah sebelum berangkat sekolah. Usahakan untuk selalu membekalinya dengan pangan buatan sendiri yang lezat, bergizi dan bervariasi. Biasakan makan bersama anak di meja makan dan masak bersama mereka di dapur. Ini menciptakan suasana akrab dan menyenangkan. Anak dapat mengenal bahan dan belajar mengolah pangan yang sehat. Sarapan pagi sebelum berangkat sekolah ternyata amat penting karena ikut menentukan kualitas prestasi seorang anak.

Di lain pihak akibat terbatasnya waktu membuat anak dan Anda tak sempat lagi untuk sarapan pagi. mengabaikan sarapan akan membuat anak berperilaku jajan yang tak sehat apalagi rata-rata jajanan di sekolah kurang bergizi. Dalam jangka waktu pendek maupun panjang apabila anak-anak membiasakan diri jajan di sekolah dan melupakan sarapan pagi akan menimbulkan masalah kesehatan tubuhnya.

b. Membawa bekal

Cara ini bisa digunakan oleh orang tua. Orang tua tak perlu memberikan uang saku, namun memberi bekal pangan. Beri anak pangan yang sehat untuk dikonsumsi. Tak harus pangan buatan sendiri, tapi bisa juga pangan yang di jual di pasaran. Tapi orang tua harus memilih pangan yang benar-benar aman bagi mereka. Karena jajanan yang diberikan itu sekaligus contoh bagi mereka. Artinya jika orang tua tak memberi bekal, mereka sudah tahu jenis jajanan yang boleh mereka beli. Memang pemberian bekal ini hanya sementara saja. Karena tujuannya untuk membuat anak mengerti jajanan yang sehat dan boleh dibeli. Jika anak sudah paham, orang tua boleh mengganti bekal dengan uang saku.

c. Hindari jajanan anak sekolah yang mengandung bahan berbahaya

Kadang jajan merupakan kegembiraan tersendiri bagi anak. Hanya saja, orang tua perlu memberi pengertian. Beri rambu-rambu pada mereka. Orang tua bisa mengatakan, boleh jajan asal di tempattempat atau lingkungan yang bersih. Misalnya jauh dari tempat sampah, got, atau kotoran seperti debu, atau asap kendaraan bermotor. Ajarkan mereka untuk memilih jajanan yang terlindung dari debu. Pangan yang dibeli pun sebaiknya dalam keadaan tertutup, bersih dan tidak kotor atau bekas dipegang-pegang orang. Tanpa penjelasan yang jelas dan mudah dimengerti, Orang tua akan kesulitan untuk melarang anak mengkonsumsi jajanan berbahaya.

Ada baiknya orang tua menyampaikan bahayabahaya dari pangan yang mengandung pewarna, pemanis, dan pengawet yang melebihi batas aman atau mungkin mengandung bahan berbahaya. Dengan mengemukakan bahaya dari pangan tersebut, kemungkinan besar anak takut, sehingga jera dan tak berani lagi membeli jajanan tersebut. Namun orang tua harus menyampaikan peringatan-peringatan itu terus menerus. Selain itu untuk mengungkapkan bahaya atau efek samping dari pangan yang tak sehat tersebut, orang tua memang harus belajar dan tahu jenis-jenis pangan yang ada. Tanpa pemahaman itu, orang tua akan kesulitan menyampaikan informasi yang tepat dan benar pada anak.

Ajarkan anak untuk mengetahui PJAS yang sesuai (lihat bab 4 point 4.2 tentang PJAS yang sesuai) dan Tips memilih PJAS yang sesuai (lihat bab 4 point 4.2 tentang tips memilih PJAS yang sesuai). Beritahu anak bahwa pangan yang enak belum tentu aman bagi mereka. Kalau perlu orang tua secara tegas dan keras melarang mereka untuk membeli pangan jajanan yang berbahaya.

d. Orangtua beri contoh untuk selalu memilih jajanan yang sehat

Baik saat pergi bersama anak maupun saat membawa oleh-oleh sepulang kerja. Sia-sia jika mengajarkan anak memilih jajanan yang sehat jika orang tua tak memberi contoh yang baik. Kalau perlu kurangi frekuensi jajan anak dalam sehari atau seminggu jika memungkinkan. Mengajari anak untuk tak jajan tentu lebih baik, dibanding orang tua selalu was-was mengkhawatirkan jajanan yang dikonsumsi anak. Lebih baik lagi, jika orang tua bisa mengajari anak untuk menabung uang sisa jajannya dalam celengan.

e. Beri pengertian terhadap iklan yang tidak benar

Beri pengertian terhadap iklan yang tidak benar Minat jajan anak dan iklan di televisi sangat berkaitan erat. Tayangan televisi saat ini penuh muatan iklan. Selain ibu rumah tangga, anak-anak menjadi sasaran iklan yang paling empuk, karena masih mudah terpengaruh. Beragam iklan baik minuman maupun pangan ditayangkan dengan sangat memikat dan menarik bagi anak-anak. Hasilnya anak-anak pasti merengek untuk minta dibelikan apa yang dia lihat dalam tayangan iklan. Karena itulah, orang tua perlu mendampingin mereka saat menonton televisi. Berikan pengertian pada mereka bahwa apa yang diiklankan di tv tak selalu bermanfaat, sehingga tak perlu dibeli atau dicoba. Jadi langkah ini merupakan awal untuk memberi pemahaman jajananjajanan yang baik bagi kesehatan mereka.

Penutup

Anak sekolah mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga membutuhkan konsumsi pangan yang cukup untuk pencapaian gizi seimbang. Asupan zat gizi anak sekolah dapat diperoleh dari pangan yang disediakan di rumah dan dari jajanan yang diperoleh di sekolah. Oleh karena itu diperlukan panduan bagi orang tua, guru, dan pengelola kantin agar dapat memahami informasi dan edukasi kepada anak sekolah, agar mereka dapat memilih jajanan yang sesuai. Diharapkan Pedoman PJAS (Pedoman Jajanan Anak Sekolah) untuk Pencapaian Gizi Seimbang yang ditujukan untuk orang tua, guru, dan pengelola kantin dapat bermanfaat dalam pencapaian gizi seimbang pada anak sekolah.

Sumber referensi: PEDOMAN PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH UNTUK PENCAPAIAN GIZI SEIMBANG, BPOM RI