LBB Cendikia

Pada zaman era digital yang ditandai dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi,  dimana saat ini media televisi, ponsel pintar telah menjadi makanan sehari-hari, yang tidak lagi memandang usia (Mujiburrahman, 2013). Adanya perubahan teknologi yang semakin cepat, membuat peran pola asuh orangtua tidak hanya berkutat dengan pola pendidikan, tetapi mengalami perkembangan juga seperti berkembangnya teknologi saat ini. Pola asuh orangtua tidak terlepas dari pengawasan orangtua terhadap anaknya. Segala tingkah laku anak, akan diawasi, dibimbing oleh orangtua. Dari anak lahir, sampai sudah menikah, walaupun orangtua sebenarnya sudah selesai tanggung jawabnya, tetapi kasih orangtua tidak akan habis kepada anaknya. Peran orangtua sangat utama dalam pembentukan karekter anak, yang mana peran tersebut tidak terlepas dari tipe pola asuh orangtua atau pola komunikasinya. Pola komunikasi orangtua di era digital ini perlu dipahami agar tujuan pengasuhan bisa tercapai.

4 Tipe Pola Komunikasi Orangtua di Era Digital

Tipe pola komunikasi orangtua di zaman era digital, terdapat empat tipe, diantaranya (Muhammad Hayyumas, 2016):

1. Pola Komunikasi Konsensual

Adanya musyawarah mufakat. Pola komunikasi dari tipe ini, bahwa selaku orangtua dengan senang sekali mengajak mengobrol anak-anaknya. Namun, segala keputusannya terletak kepada orangtua, walaupun berbeda dengan kemauan anak, tetapi alasan ketidaksetujuan orangtua terhadap kemauan anak dijelaskan dengan mendalam sehingga anak lebih mengerti dan memahami, mengapa orangtuanya tidak menyetujui keinginannya.

2. Pola Pluralistik

Komunikasi ini lebih terbuka, sehingga orangtua sering berbicara dengan anak. Bahkan, keputusan diserahkan kepada anak semuanya, yang penting keputusan itu adalah baik. Anak lebih berpikir secara bebas.

3. Pola Komunikasi Protektif

Komunikasi orangtua dengan anaknya sangat jarang sekali, tetapi sifat kepatuhan atau norma dalam keluarga sangat tinggi, sehingga tipe ini, jika anak marah, maka akan lebih mudah dibujuk.

4. Pola Laissez-faire

Pola komunikasi ini jarang dilakukan oleh orangtua sehingga sering terjadi kesalahan dalam komunikasi antara orangtua dan anak. Pola ini yang cenderung membiarkan dan membebaskan anak tanpa arahan sehingga anak bebas bertindak semaunya sendiri.

Baca juga: Langkah-langkah mengembangkan bakat dan minat anak

Peran Pola Komunikasi Orangtua

Dari beberapa pola komunikasi tersebut, sama juga halnya dengan tipe pola asuh orangtua, baik otoriter, demokratis maupun permisif. Namun, dari beberapa pola tersebut, ketiga pola asuh ini perlu disinkronisasikan sesuai dengan situasi dan kondisi perilaku anak. Karena, sebagai selaku orangtua, tidak hanya menekankan pada satu pola asuh, tetapi harus menggunakan ketiga pola asuh tersebut. Oleh karena itu, urgensi mendidik anak di era digital, sebagai selaku orangtua, wajib mengetahui perkembangan anak. Pola asuh otoriter diberlakukan kepada anak sesuai dengan situasi dan kondisi yang diperlukan. Orangtua berhak untuk memberikan kebebasan sebagaimana pola asuh permisif tetapi dalam hal negatif, sehingga ketiga pola asuh ini, baik otoriter, permisif dan demokratis masing-masing bekerjasama terhadap dampak yang dihasilkan oleh teknologi, misalnya jika pada waktu anak sedang belajar, maka orangtua mengontrolnya dengan sebaik mungkin, agar dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh anak, maka anak tidak membawa telepon genggam.

Kesimpulan

Orangtua selalu menasehati dan selalu berinovasi tentang masa depan anak, dan selalu memberikan hal yang positif terhadap apa yang dilakukan oleh orangtua adalah untuk kebaikan anak. Namun, segala-gala yang dilakukan oleh orangtua dalam pola asuhnya tidak terlepas dari tahap perkembangan moral anak, karena setiap jenjang usia anak, maka sistem pendidikan yang diberikan pun sesuai dengan tahap moral tersebut. Peran orangtua dalam mendidik anaknya tidak terlepas dari pola asuh yang diterapkan oleh orangtua. Di zaman era digital saat ini, dengan berbagai macam kecanggihan teknologi sehingga tipe pola asuh atau pola komunikasi orangtua kepada anaknya ikut juga mengalami perubahan.

Tipe pola asuh yang terdiri dari otoriter, demokrasi dan permisif, dengan mengalami sistem pola asuh yang berbeda-beda yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya sehingga menghasilkan karakter yang berbeda-beda juga kepada anak. Oleh karena itu, perubahan teknologi semakin pesat dari waktu ke waktu, maka sebagai selaku orangtua, seharusnya tidak tinggal diam dengan perkembangan yang ada terhadap pola asuh anaknya, tetapi harus melakukan perubahan juga, sehingga teknologi yang mengalami perubahan tetapi pola asuh anak ikut juga mengalami sinkronisasi antara peran pola asuh tipe otoriter, demokratis dan permisif.

Sumber: Jurnal Peran Pola Asuh Orangtua di Era Digital oleh Aslan, Jurnal Studia Insania, Mei 2019, hal 20 – 34 Vol. 7, No. 1