LBB Cendikia – Jenis Kecerdasan Manusia dan Cara Mengembangkannya.

jenis kecerdasan manusia

Hakekatnya manusia adalah makhluk yang dapat dididik dan mendidik (belajar-mengajar), dan dapat dipengaruhi serta mempengaruhi. Manusia bukanlah makhluk yang selalu pasif yang hanya dapat menerima saja dan juga manusia bukan makhluk agresif yaitu yang dapat memberikan dan mempengaruhi, tetap tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan. Manusia merupakan makhluk yang cerdas. Artikel berikut ini akan membahas terkait jenis kecerdasan manusia dan cara mengembangkannya.

Perintah Mengembangkan Kecerdasan

Menurut hadist HR. Muslim no. 6945, Imam Ahmad no. 8777 dan 8815, Ibnu Majah no. 79 dan 4168, Nasai no. 10457, Ibnu Hibban, Baihaqi, dan lainnya, artinya Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‚ÄúSeorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Namun, keduanya memiliki keistimewaan masing-masing. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menggapai hal-hal yang bermanfaat untukmu! Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi orang yang lemah”.

Dari hadist diatas, setidaknya bisa diambil 3 kesimpulan, bahwa;

  1. Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing
  2. Ada perintah Tuhan untuk mengembangkan potensi keistimewaan tersebut secara maksimal 
  3. Larangan untuk menjadi orang yang malas atau berhenti dalam upaya mengembangkan potensi diri

Namun, setelah kesimpulan diatas, masih diperlukan pendalaman yang lebih lanjut agar bisa tercapai pengembangan potensi yang maksimal. Setidaknya, ada 2 pertanyaan yang perlu diajukan dan dicarikan jawabannya.

Yakni jika setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing yang berbeda satu sama lain, maka keistimewaan apa saja yang bisa dimiliki seorang manusia. Sementara dalam isu yang diikuti, kecerdasan atau keistimewaan manusia, itu saat rangking 1, bisa mengerjakan soal ulangan dst. Lalu, apakah yang tidak rangking dan tidak bisa mengerjakan soal tidak bisa mengembangkan keistimewaannya masing-masing? Bagaimana memperluas pandangan kita tentang kecerdasan.

Sehingga, dalam artikel ini akan dijelaskan secara sistematis dan ringkas, mengenai pokok bahasan mengenai jenis kecerdasan manusian, bagaimana mengidentifikasi dan mengembangkannya pada anak didik.

Jenis-jenis Kecerdasan Manusia

Untuk memahami jenis kecerdasan manusia, pendekatan yang digunakan adalah teori Multiple intelligence dari professor Pendidikan Howard Gardner yang telah mengelompokkan kecerdasan secara sistematis.

1. Pengertian Multiple Intelligences (Kecerdasan Jamak)

Teori multiple inteligensi atau kecerdasan majemuk ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard Univercity, Amerika Serikat. Gardner mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata.

Berdasarkan pengertian ini, dapat dipahami bahwa inteligensi bukanlah kemampuan seseorang untuk menjawab soal-soal tes IQ dalam ruang tertutup yang terlepas dari lingkungannya. Akan tetapi inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan yang nyata dan dalam situasi yang bermacam-macam. Gardner menekankan pada kemampuan memecahkan persoalan yang nyata, karena seseorang memiliki kemampuan inteligensi yang tinggi bila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup yang nyata, bukan hanya dalam teori.

Semakin seseorang terampil dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan yang situasinya bermacam-macam dan kompleks, semakin tinggi inteligensinya. Penemuan Gardner tentang intelegensi seseorang telah mengubah konsep kecerdasan. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang diukur bukan dengan tes tertulis, tetapi bagaimana seseorang dapat memecahkan problem nyata dalam kehidupan. Intelegensi seseorang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan jumlahnya banyak, hal ini berbeda dengan konsep lama yang menyatakan bahwa inteligensi seseorang tetap mulai sejak lahir sampai kelak dewasa, dan tidak dapat diubah secara signifikan. Bagi Gardner suatu kemampuan disebut inteligensi bila menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya.

Hal ini memicu upaya keras dari Howard Gardner untuk melakukan penelitian dengan melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu yang pada akhirnya melahirkan teori multiple intelligences (kecerdasan jamak). Multipe intelelligences yang telah dikemukakan Gardner diterjemahkan dalam kata yang berbeda pada beberapa buku.

  1. Pada Alder (2001) dalam Andi Ichsan Mahardika (2011: 23) diterjemahkan sebagai kecerdasan yang berlipat ganda
  2. Uno (2009: 123) dalam Andi Ichsan Mahardika (2011: 23) mengartikan sebagai kecerdasan ganda.
  3. Efendi (2005:135) dalam Andi Ichsan Mahardika (2011: 23) diterjemahkan sebagai kecerdasan majemuk, dengan menggunakan serapan diartikan sebagai multi inteligensi.

Gardner (2003) mengemukakan kecerdasan majemuk didasari bahwa orang mempunyai kekuatan memahami berbeda dan gaya pemahaman yang kontras. Membawa visi alternatif yang didasarkan pada pandangan mengenai pikiran yang berbeda secara radikal, dan visi menghasilkan pandangan mengenai sekolah yang amat berbeda, sekolah yang terpusat pada individual, yang menerima pandangan multi dimensi dari kecerdasan.

2. Delapan Jenis Kecerdasan Manusia dalam Teori Multi Intelegensi

Delapan jenis inteligensi atau kecerdasan manusia yang kemudian disebut multi inteligensi antara lain: jenis kecerdasan verbal-linguistik; kecerdasan logis-matematik; kecerdasan visual-spasial; kecerdasan berirama-musik; kecerdasan jasmaniah-kinestetik; kecerdasan interpersonal; kecerdasan intrapersonal; Gardner (Andi Ichsan Mahardika, 2011). Pada pengkajian lebih lanjut Gardner dalam Rose: 150 dan Hoerr 2007: 15, menambahkan satu inteligensi yang lain yaitu inteligensi naturalis. Kedelapan jenis kecerdasan manusia tersebut dapat dijelaskan oleh beberapa ahli sebagai berikut:

a. Kecerdasan Verbal-Linguistik

Kecerdasan verbal-linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa, termasuk bahasa ibu dan bahasa-bahasa asing, untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran dan memahami orang lain. Menggunakan kata merupakan cara utama untuk berpikir dan menyelesaikan masalah bagi orang yang memiliki kecerdasan ini.

Kecerdasan linguistik disebut juga jenis kecerdasan verbal manusia karena mencakup kemampuan untuk mengekspresikan diri secara lisan dan tertulis serta kemampuan untuk menguasai bahasa asing. Mereka menggunakan kata untuk membujuk, mengajak, membantah, menghibur, atau membelajarkan orang lain.

b. Kecerdasan Logis-Matematik

Kecerdasan matematik adalah kemampuan yang berkenaan dengan rangkaian alasan, mengenal pola-pola dan aturan. Kecerdasan ini menunjuk pada kemampuan untuk mengeksplorasi pola-pola, kategori-kategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau simbol untuk melakukan percobaan dengan cara yang terkontrol dan teratur.

Kecerdasan matematika disebut juga kecerdasan logis dan penalaran karena merupakan dasar dalam memecahkan masalah dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari sistem kausal atau dapat memanipulasi bilangan, kuantitas, dan operasi. Oleh karena itu, orang yang kuat dalam kecerdasan ini sangat senang berhitung, bertanya, dan melakukan eksperimen.

c. Kecerdasan Visual-Spasial

Kecerdasan visual adalah kemampuan untuk memahami gambar-gambar dan bentuk. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung berpikir dengan gambar dan sangat baik ketika belajar melalui presentasi visual seperti film, gambar, video, dan demonstrasi yang menggunakan alat peraga. Mereka juga sangat menyukai aktivitas menggambar, mengecat, mengukir, dan biasa mengungkapkan diri mereka melalui aktivitas seni. Mereka juga sangat baik untuk membaca peta, diagram, dan menyelesaikan teka-teki jigsaw. Kecerdasan visual disebut juga kecerdasan spasial karena mencakup kemampuan untuk menggambar bentuk dan ruang suatu objek, kemampuan memikirkan bentuk sehingga memungkinkan seseorang untuk mengetahui di mana dia berada, dan kemampuan untuk memotret dunia.

d. Kecerdasan Berirama-Musik

Kecerdasan berirama-musik adalah kapasitas berpikir tentang music seperti mampu mendengar, mengenal, mengingat, dan bahkan memanipulasi pola-pola musik. Orang yang memiliki kecerdasan music dianggap memiliki apresiasi yang kuat terhadap musik, dengan mudah mengingat lagu-lagu dan melodi, mempunyai pemahaman tentang warna nada dan komposisi, dapat membedakan perbedaan antara pola nada dan pada umumnya senang terbenam dalam musik. Kemampuan memainkan instrumen datang dengan alamiah pada diri orang yang memiliki kecerdasan musik. Kecerdasan musik juga meliputi kemampuan mempersepsi dan memahami, mencipta dan menyanyikan bentuk-bentuk  musikal dan para ahli mengakui bahwa musik merangsang aktivitas kognitif dalam otak dan mendorong kecerdasan.

e. Kecerdasan Jasmaniah-Kinestetik

Kecerdasan jasmaniah-kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuh dalam mengekspresikan ide, perasaan dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mentransformasi sesuatu. Orang yang memiliki kelebihan dalam kecerdasan kinestetik cenderung mempunyai perasaan yang kuat dan kesadaran mendalam tentang gerakan-gerakan fisik. Mereka mampu berkomunikasi dengan baik melalui bahasa tubuh dan sikap dalam bentuk fisik lainnya.

Mereka juga mampu melakukan tugas dengan baik setelah melihat orang lain melakukannya terlebih dahulu, kemudian meniru dan mengikuti tindakannya. Namun, orang yang memiliki kecerdasan ini sering merasa tidak tenang ketika duduk dalam waktu yang relatif lama dan bahkan merasa bosan jika segala sesuatu yang dipelajari atau disampaikan tanpa disertai dengan tindakan yang bersifat demonstratif.

f. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk membaca tanda dan isyarat sosial, komunikasi verbal dan non-verbal, dan mampu menyesuaikan gaya komunikasi secara tepat. Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi melakukan negosiasi hubungan dengan keterampilan dan kemahiran karena orang tersebut mengerti kebutuhan tentang empati, kasih sayang, pemahaman, ketegasan, dan ekspresi dari kebutuhan dan keinginan.

Orang seperti ini mengetahui bagaimana pentingnya berkolaborasi dengan orang lain, memimpin ketika diperlukan, mengikuti jika memang keikutsertaan sangat diperlukan, bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki keterampilan komunikasi yang berbeda-beda. Kecerdasan interpersonal berhubungan dengan konsep interaksi dengan orang lain di sekitarnya. Interaksi yang dimaksud bukan hanya sekedar berhubungan biasa saja seperti berdiskusi dan membagi suka dan duka, melainkan juga memahami pikiran, perasaan, dan kemampuan untuk memberikan empati dan respons.

g. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal merupakan jenis kecerdasan manusia yang bersumber pada pemahaman diri secara menyeluruh guna menghadapi, merencanakan, dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi. Orang yang memiliki kecerdasan ini cenderung memiliki kesadaran diri yang tinggi di mana mereka mampu memproses tujuan yang jelas tentang segala sesuatu yang dilakukan sekarang dan masa yang akan datang. Pada umumnya, mereka memilih untuk bekerja sendiri dalam menyelesaikan proyek-proyek meskipun kadang-kadang memerlukan perhatian ekstra.

Mereka bukan hanya cenderung untuk selalu menyendiri dan tidak mau bergaul dengan yang lain, tetapi juga berhubungan dengan kemampuannya untuk merefleksi diri. Mereka dapat menghabiskan waktu dalam kehidupan sehari-hari untuk merefleksi diri memikirkan tujuan dan keberadaan diri mereka. Jika tidak memiliki tujuan tertentu yang harus dilakukan di luar, seperti pergi ke sekolah atau kegiatan lain, maka mereka mungkin tidak akan pernah meninggalkan rumah mereka selama beberapa waktu tertentu.

h. Kecerdasan Naturalistik

Kecerdasan naturalistik adalah kemampuan dalam mengenal dan mengklasifikasi berbagai spesies termasuk flora dan fauna dalam suatu lingkungan. Orang yang memiliki kecerdasan naturalistik yang kuat mempunyai ketertarikan pada dunia luar atau dunia binatang, ketertarikan ini mulai muncul sejak dini. Mereka menyukai subjek, cerita-cerita, dan pertunjukan yang berhubungan dengan binatang dan fenomena alam. Bahkan, mereka menunjukkan minat yang luar biasa pada mata pelajaran seperti biologi, ilmu hewan (zoology), ilmu tumbuh-tumbuhan (botany), ilmu tanah (geology), ilmu cuaca (meteorology), ilmu falak (astronomi), dan paleontologi.

Kecerdasan naturalistik disebut juga cerdas alam karena sangat peka terhadap perubahan dalam lingkungan, sekalipun perubahan tersebut dalam hitungan menit dan sangat perlahan yang bagi orang lain pada umumnya sama sekali tidak merasakan. Hal ini terjadi karena tingkat persepsi sensori yang dimilikinya jauh lebih tinggi dari kebanyakan orang. Kekuatan perasaan yang berhubungan dengan alam dapat memberi pemahaman tersendiri dalam mengamati persamaan, perbedaan, dan perubahan pada alam jauh lebih cepat dibandingkan orang lain pada umumnya. Oleh karena itu, orang yang cerdas pada alam sangat mudah untuk mengategori dan membuat katalog terhadap sesuatu.

3. Aktifitas Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences

Aktivitas pembelajaran dalam arti luas meliputi pendidikan praktik-praktik yang memperlakukan peserta didik bukan hanya sebagai pelaksana pembelajaran yang diberikan oleh pendidik, melainkan juga berperan sebagai agen tindakan kognitif yang didistribusikan antara pendidik dan peserta didik. Artinya, peserta didik dapat menyusun tujuan, mencari cara dan metode untuk mencapai tujuan, dan melibatkan diri untuk mengalami aktivitas pembelajaran serta melakukan evaluasi diri terhadap hasil yang diperolehnya. Yaumi (2013)

Dengan kata lain, aktivitas pembelajaran hendaknya memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk mengamati lingkungan sekitarnya kemudian menghubungkan dengan  pengetahuan atau pengalaman yang telah diperolehnya dan selanjutnya mereka  diikutkan dalam menentukan sendiri tujuan pembelajaran dan cara untuk mencapai tujuan tersebut dengan pendidik sebagai fasilitator. Berdasarkan definisi di atas, aktivitas pembelajaran berbasis kecerdasan jamak di sini adalah berbagai bentuk aktivitas yang didesain untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dengan memfasilitasi berkembangnya kecerdasan jamak (multiple intelligences) peserta didik. Yaumi (2013: 3).

Pengembangan Potensi Kecerdasan Manusia

Teori konvergensi yang diusung oleh William Stern (1871-1938) menyatakan bahwa perkembangan manusia berlangsung atas pengaruh dari faktor bakat/ kemampuan dasar dan factor lingkungan, termasuk pendidikan. Jadi proses perkembangan manusia merupakan hasil kerjasama antara faktor dasar (bawaan) dan alam lingkungan.

Sebelum memulai aktivitas pembelajaran, peserta didik diklasifikasikan berdasarkan jenis kecerdasan yang dimilikinya. Mengingat karena sebagian besar peserta didik dapat memiliki beberapa jenis kecerdasan maka perlu diperhatikan untuk menghindari mengklasifikasi seorang anak hanya dalam satu jenis kecerdasan. Dalam merencanakan pembelajaran dengan menggunakan teori kecerdasan jamak memerlukan analisa bagaimana cara mengajar yang dapat mengakomodir seluruh jenis kecerdasan yang dimiliki peserta didik.

  1. Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian siswa tentang suatu tema atau topik pembelajaran.
  2. Mendorong dan menginspirasi siswa untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
  3. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya.
  4. Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
  5. Membangkitkan keterampilan siswa dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
  6. Mendorong partisipasi siswa dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
  7. Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
  8. Membiasakan siswa berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul.
  9. Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain

Itulah berbagai jenis kecerdasan manusia berdasarkan teori multiple intellegences. Dengan adanya jenis-jenis kecerdasan manusia diatas, tentunya bagi instansi pendidikan baik formal seperti sekolah atau informal seperti lembaga bimbingan belajar privat bisa menjadikannya pijakan dalam memberikan sistem pembelajaran yang bisa mengoptimalkan potensi kecerdasan diatas. Tidak hanya lembaga pendidikan, orangtua pun bisa mengambil peran dalam pengembangan kecerdasan potensi anak diatas. Karena setiap manusia itu unik dan istimewa, maka disini sebagai pendidik dan pengajar bisa mengoptimalkan keistimewaan dari potensi kecerdasan masing-masing.