Kemampuan bertanya, erat kaitannya dengan kreatifitas. namun, kita sering menjumpai fenomena ini

“Ada yang ingin bertanya?” ucap seorang guru kepada muridnya. Kemudian disambung dengan keheningan kelas. Ini merupakan kondisi yang seringkali terjadi dalam situasi belajar mengajar. Kemudian guru tersebutpun bertanya lagi, “apa sudah paham semuanya.” Seisi kelaspun mengangguk seolah sudah mengerti semuanya. Namun, ketika ujian sedang berlangsung, banyak siswa yang mendapatkan nilai kurang dari KKM atau gagal dalam pembelajaran. Situasi ini, seringkali kita jumpai dalam kegiatan pembelajaran. 

Kemampuan bertanya saat kita tidak mengasahnya, Kemudian yang lebih berbahaya, jika ternyata kemudian situasi tersebut terbawa saat menghadapi kehidupan realita. Saat kita merasa memahami berbagai konsep-konsep seperti pengaturan keuangan, pengelolaan emosi dll, seolah kita sudah memahami dan bisa menerapkan konsep konsep tersebut. Namun, di dalam kenyatannya kita gagal menerapkannya. Dari 2 contoh tersebut, bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata, kurangnya skill bertanya, membawa kita ke dalam dangkalnya pemahaman. Sehingga untuk bisa memamahi sesuatu yang utuh, kita memerlukan salahsatu kemampuan paling penting, yaitu kemampuan bertanya atau kemampuan menggali informasi. 

Pertanyaan menjadi permasalahan

Akan tetapi budaya bertanya belum menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam pembelajaran sekolah-sekolah. Padahal kemampuan bertanya merupakan hulu dari sebuah pembelajaran. Bertanya merupakan indikasi hasrat belajar, antuasiasme dalam menggali dan memahami sebuah konsep, bahkan merupakan sebuah langkah awal terciptanya kreatifitas dan innovasi.  

Lalu, mengapa skill bertanya yang penting tersebut, pengajar kurang mengasah kemampuan ini kepada murid, baik guru maupun orangtua? Beberapa faktor antaranya, Tanpa sadar ternyata kecenderungan seorang guru akan selalu bertanya kepada siswanya dan jarang terjadi hal sebaliknya. Bahkan menekan anak agar tidak banyak bertanya, karena kita merasa sibuk atau malas menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anak. Sehingga daya kreatif dan kritis anak terkikis sedikit demi sedikit. 

Lantas, apa saja yang perlu kita persiapkan atau lakukan, agar skill bertanya bisa menjadi subur dalam anak kita, yang kemudian bisa menjadi penunjangnya dalam memiliki motivasi pembelajaran yang tinggi, antuasiasme pembelajaran mandiri yang aktif, dan berkembangnya kreatifitas dan innovasinya.

Menanamkan gairah belajar untuk mendorong timbulnya pertanyaan atau stimulasi bertanya

Siswa yang kurang bertanya atau kurang antusias dalam pembelajaran, beberapa sebab, salahsatunya adalah siswa tidak menangkap pentingnya topik pembelajaran yang oleh pengajar sampaikan kepadanya. Siswa tidak mengetahui apa kaitan pokok pembelajaran dengan permasalahan, minat dan kebutuhan dirinya. Sehingga siswa merasa acuh tak acuh dalam mempelajari topik tersebut, yang pada akhirnya tidak ada gairah untuk mendalami dan menggali pemahaman yang lebih dalam pun tidak mereka inginkan. 

Sehingga untuk menstimulasi kemampuan bertanya, mereka harus memahami terlebih dulu kaitan pokok topik pembahasannya dengan apa yang sedang mereka alami, mereka minati bahkan mereka butuhkan. Itupun bisa kita mulai dari 2 arah. Bisa pengajar memberikan penjelasan keterkaitan topik dengan minat, pengalaman dan kebutuhan mereka. Semakin kongkrit semakin bagus. Atau sebelum pembelajaran, guru bisa bertanya kepada siswa sendiri tentang topik apa yang ingin mereka pelajari dan mengapa mereka ingin mempelajari hal tersebut. Dengan begitu bisa memungkinkan terjalin keterkaitan yang lebih dalam dalam suasana batin siswa dengan suasana pembelajaran yang sedang berlangsung. 

Memberikan dorongan dan kesempatan bertanya agar menumbuhkan keterampilan bertanya

Guru harus mendorong siswa mau dan mampu bertanya, terutama mengajukan pertanyaan yang bersifat investigatif (pertanyaan yang mendorong siswa untuk melakukan eksplorasi terlebih dahulu sebelum menjawabnya). Pada fase menanya ini, yang perlu membuat pertanyaan adalah siswa, bukan gurunya. 

Berikut sembilan hal yang dapat Guru lakukan dalam menstimulasi siswa agar bertanya:

Pengataman

  1. Mengenalkan suatu fenomena menarik yang belum pernah siswa kenali sebelumnya. Guru mampu memberikan sudut pandang pengamatan yang berbeda dan baru. Sehingga kemudian, siswa akan mengajukan pertanyaan jikalau yang siswa amati itu benar-benar manarik dan membuat siswa penasaran terhadap apa yang mereka amati.
  2. Words in a question. GUru memberi Siswa beberapa kata atau rangkaian kata, dan siswa membuat kalimat yang memuat kata-kata tersebut. Kemudian Guru memberikan contoh pertanyaan pancingan, misalkan apa yang harus mereka perhatikan pada sisi pendek dan sisi panjang? Bagaimana cara menemukan rumus keliling dan rumus Luas persegi panjang?.
  3. Guru membentuk kelompok belajar dalam kegiatan pengamatan dan bertanya. Setelah waktu pengamatan selesai, setiap siswa dalam satu kelompok wajib membuat minimal satu pertanyaan. Kemudian guru memilih tiga pertanyaan yang paling bagus menurut kelompoknya. Setelah itu, tukarkan tiga pertanyaan tersebut dengan kelompok lain. Kemudian jawablah dan diskusikan tiga pertanyaan dari kelompok lain tersebut dalam kelompok masing-masing.
  4. Guru dapat juga meminta siswa untuk bekerja dalam kelompok untuk membuat beberapa pertanyaan terlebih dahulu, dan selanjutnya meminta mereka bersepakat untuk memilih satu pertanyaan tertentu yang layak untuk mereka tindak lanjuti dengan penyelidikan, baik oleh kelompok lain atau kelompok itu sendiri.
  5. Guru memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk melakukan kegiatan pengamatan. Kemudian setiap siswa wajib membuta minimal tiga pertanyaan. Dalam fase ini guru mendatangi setiap siswa yang kelihatannya kesulitan untuk membuat pertanyaan, kemudian Guru mengarahkan siswa tersebut untuk mengamati kembali pada bahan kegiatan pengamatan. Sesekali Guru berperan “pura-pura” tidak tau sehingga menanyakan sesuatu kepada siswa tersebut, “kenapa kok bisa begini ya?”, “bagaimana kalau menurut ananda” dan sebagainya.

Stimulasi pertanyaan

  1. Completing What if or What if not questions. Guru memberikan Siswa tugas untuk melengkapi pertanyaan yang menggunakan dengan kata-kata What if yang berarti “Bagaimana kalau” atau kata What if not yang berarti “bagaimana kalau tidak”.
  2. Questioning Breakfast. Sarapan pagi “menanya”. Setiap pagi, sebelum guru memulai pelajaran, guru meminta siswa untuk menuliskan pertanyaan. Guru bisa mengondisikan agar pertanyaan yang telah siswa buat sesuai dengan tema dan KD yang sedang menjadi pembahasan.

Memberikan reward kepada yang bertanya dan memiliki keterampilan bertanya (kuantitas maupun kualitas pertanyaan)

Agar siswa konsisten bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan inovatif. Iklim pendukung untuk para penanya memiliki situasi mood siswa yang bertanya tetap positif. Dengan memberikan reward kepada penanya akan memberikan stimulasi kepada penanya agar mengulangi lagi sikap kritis dan antusiasmenya. 

Terkadang reward ternyata tidak seperti yang kita bayangkan harus berupa hadiah, uang atau apa. Hadiah berupa pujian, sikap tulus dalam menjawab dan memberi pencerahan merupakan sebuah reward terbaik bagi seorang penanya. Salahsatu teknik yang bisa guru terapkan adalah Questioning Appraisal. Pemberian penghargaan kepada siswa yang memiliki kuantitas dan kualitas pertanyaan investigatif yang baik. Dengan begitu, siswa mempersepsi kegiatan menanya sebagai suatu kegiatan yang bermanfaat

Memberikan konflik dalam pembelajaran

Dalam  sebuah film, sutradara akan mempertahankan rasa penasaran penonton adalah dengan mengelola konflik yang ada dalam alur ceritanya. Sutradara akan sebisa mungkin menata alur cerita yang susah tertebak, sehingga memperkuat konflik yang terjadi. Ini akan menjadi kesan yang membawa emosi penonton untuk terus menerus mengikuti cerita hingga akhir. 

Seperti sutradara film, Selayaknya guru pun mampu membumbui penjelasannya dengan sebuah konflik yang terkendali, sehingga bisa bisa antusias dan memberikan perhatiannya, kemudian melakukan tebakan-tebakan jalan cerita penjelasan dari gurunya. 

Contohnya dalam menjelaskan sejarah kerajaan tertua indonesia, satu kelompok mendapat instruksi untuk menjelaskan bukti-bukti sejarah yang mengatakan bahwa A merupakan kerajaan tertua, sementara kelompok lainnya mendapat tugas membuktikan bahwa B merupakan kerajaan tertua. Dari konflik tersebut, timbul lah pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana melakukan pembuktian yang lebih baik dalam menentukan umur suatu kerajaan. Tentu pembelajaran semacam ini lebih mengasyikkan daripada sekedar menghafal tahun lahirnya kerajaan-kerajaan. 

Mengasah 3 kepribadian dasar yang wajib dimiliki untuk mendapatkan skill bertanya yang berkualitas

Kepribadian yang perlu untuk mengasah kemampuan bertanya. Seorang yang ingin mengasah kemampuan bertanyanya, harus memiliki 3 keterampilan dasar ini, yakni : 

Rasa ingin tahu yang tinggi 

Seorang yang berpikir kritis selalu mencari informasi dan bukti terbaru dan kuat, suka mempelajari banyak hal, dan terbuka dengan ide yang baru. Seseorang yang tidak memiliki hasrat untuk memahami, mengevaluasi, membuat perubahan tidak akan bisa memiliki kemauan untuk mengasah skill bertanyanya. Sehingga terjadi reaksi simultan pertanyaan menghasilkan rasa ingin tahu, rasa ingin tahu melahirkan pertanyaan. Ini terus menggulung menjadikan seseorang yang ingin berinovasi tanpa batas 

Skeptis sebagai awal dari kemampuan bertanya

Skeptis artinya tidak gampang percaya dengan suatu hal. Seorang yang berpikir kritis selalu mempertanyakan informasi yang baru siswa dapatkan sehingga tidak gampang percaya dengan perkataan orang lain. Skeptis dalam arti bukan menyangkal semua pendapat atau opini dari sumber lain, melainkan skeptis dalam arti mampu menemukan kejanggalan, permasalahan, pendalaman terkait sebuah fakta tertentu. 

Jadi perlu diklarifikasi bahwa skeptis, bukan hanya skeptis buta. Artinya, skeptis yang berdasarkan berdasarkan pemahaman logis yang sebelumnya terbentuk, bukan skeptis yang emosional yang tidak berdasarkan konsep pemahaman logis sebelumnya. Sehingga arah pertanyaannya bukan hanya sekedar menghancurkan lawan, melainkan membentuk sebuah struktur baru yang lebih kuat. 

Skeptis buta adalah seperti pertanyaan-pertanyaan. Saya tidak percaya rumus ini itu, buktikan dst. Lebih baik skeptis berdasarkan kepada konsep sebelumnya, sebagai konsep ideal, sementara menjadi kejanggalan sebagai masalah.  Skeptis maksudnya ini juga bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan yang bisa menjadi bahan pokok permasalahan, kemudian melahirkan pertanyaan berkualitas. 

Sebagai contoh, metode menentukan umur kerajaan adalah dari umur prasastinya. Siswa yang skeptis bisa mempertanyakan, apakah bisa umur kerajaan diperkirakan dari umur prasastinya, kalau sudah berdiri duluan tapi tidak membuat prasasti bagaimana? Dst. ini kemudian menjadi perkembangan pemikiran yang lebih kompleks dalam pembelajaran 

Ingin belajar secara privat? yuk kenalan dengan LBB Cendikia

Memiliki kerendahan hati, sebagai penyeimbang kemampuan bertanya

Selain skeptis, kepribadian rendah hati perlu berkembang untuk menyeimbangkannya. Seseorang penanya tidak harus selalu mempertanyakan hal yang sama. Jika yang dia cari sudah ketemu jawabannya, bukannya malah mencari pertanyaan lain serupa untuk menutupi kebenaran. Melainkan dia akan mencari kebenaran lain dari temuannya sebelumnya. 

Seorang yang berpikir kritis berpikiran kritis akan terbuka dan tidak gengsi untuk mengakui kesalahan atau kekurangannya saat berhadapan pada bukti yang meyakinkan bahwa ternyata ide dan pendapatnya salah. Sehingga dia mampu bertanya kepada sesuatu lain yang dia butuhkan, dengan pertanyaan yang lebih berkualitas. 

Daftar les privat ?

Hubungi WA Kami